Gas Bersubsidi di Nalumsari Jepara, Susah Dicari & Harga Tinggi
Cari Berita

Gas Bersubsidi di Nalumsari Jepara, Susah Dicari & Harga Tinggi

Klikfakta.com
Jumat, 13 April 2018

ilustrasi

klikFakta.com, JEPARA –Gas elpigi bersubsidi berukuran 3 kilogram ternyata masih menjadi persoalan. Tidak hanya soal harga yang jauh diatas harga eceran tertinggi (HET), namun juga soal kelangkaan yang masih kerap terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Jepara.

Tim klikFakta.com, secara intens melakukan pemantauan keberadaan gas elpigi bantuan dari pemerintah tersebut di wilayah Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara. Wilayah perbatasan antara Kabupaten Jepara dengan Kabupaten Kudus.

Berdasarkan hasil pantauan dan penelusuran, gas elpigi yang juga dikenal sebagai gas “melon” tersebut harganya rata-rata diangka Rp20 ribu. Bahkan ada beberapa warga yang membeli dengan harga diangka Rp23-25 ribu per-tabung.

Harga tersebut tidak hanya berlaku di pengecer biasa non-pangkalan, yang mengambil untung dari hasil “kulakan” dari pangkalan. Tetapi harga tersebut juga diterapkan di sejumlah pangkalan yang notabene terikat dengan kebijakan pemerintah yang mematok harga tertinggi.

Kondisi tersebut bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Pasalnya, Harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah hanya Rp15.500 per-tabung.  Berdasarkan (HET), seharusnya warga dapat membeli dengan harga dibawah HET tersebut, bukan justru jauh diatas HET.

Kholid (33), salah seorang warga berkomentar, kondisi harga gas bersubsidi diatas HET sudah terjadi sejak lama. Meski hal itu bertentangan dengan aturan, nyatanya kondisi di lapangan masih saja terjadi seperti itu.

“Sudah tidak menjadi rahasia lagi kalau harga gas elpigi 3 kilogram segitu di pasaran, meski aturannya tidak boleh lebih dari Rp15.500 per-tabung. Tetapi mau bagaimana lagi, nyatanya memang gas elpigi menjadi kebutuhan pokok warga untuk kepentingan memasak sehari-hari. Warga tak bisa berbuat apa-apa,” tutur Kholid.

Selain soal harga yang tidak sesuai HET, ketersediaan gas elpigi bersubsidi di lapangan juga menjadi problem tersendiri. Masih sering terjadi kelangkaan di sejumlah lokasi di wilayah Kecamatan Nalumsari.

Khoiruz (26) menceritakan susahnya mendapatkan gas elpigi bersubsidi. Dirinya sering tak mendapatkan gas tersebut meski sudah keliling ke penjual-penjual yang ada di wilayah desanya, yakni Desa Daren Kecamatan Nalumsari.

“Sudah keliling ke beberapa penjual baik pengecer bebas maupun di pangkalan. Tetapi masih tidak dapat,” ungkapnya.

Tim klikFakta.com mencoba untuk mencari gas elpigi bersubsidi di wilayah Desa Daren tersebut. Memang benar terbukti ketersediaan gas elpigi bersubsidi tergolong sulit. Ketika ditanya, para penjual beralasan belum mendapatkan pasokan dari para agen.

Dereng disetori mas, niki mpon telas (Belum mendapatkan pasokan, ini sudah habis – red),” kata salah satu penjual di Desa Daren yang enggan disebut namanya.

Ternyata, beberapa pangkalan tidak setiap hari mendapatkan pasokan dari para agen mereka. Saat menerima pasokan, sudah diserbu oleh para pembeli. Bahkan, para pembeli dari unsur warga atau rumah tangga sudah mengantre. Sehingga ketersediaan di pangkalan tersebut tidak dapat bertahan lama.

Biasane niku langsung ludes nek mpon enten kiriman. (Biasanya langsung habis dibeli, sesaat setelah mendapatkan pasokan – red),” ungkapnya.

Dari penelusuran, juga ditemukan penjual gas elpigi bersubsidi yang cukup menarik perhatian. Tim klikFakta.com tidak dilayani oleh petugas toko yang menjual gas elpigi bersubsidi, pada Minggu (8/4/2018).

Seorang karyawan bertopi menanyakan kepada tim klikFakta.com “Mau beli gas aja?” kemudian tim menjawab “iya”, sontak tangan karyawan diangkat dan menunjukkan isyarat tidak diperbolehkan membeli gas elpigi saja.

Kemudian tim mempertegas pertanyaan, “Memang tidak ada stok atau bagaimana?”, karyawan tersebut menjawab “Kami hanya melayani bakul saja,” tegasnya. Saat diminta untuk mempertemukan  timdengan pemilik toko, karyawan tersebut menolak.

Selanjutnya tim menelusuri dengan bertanya kepada warga sekitar. Berdasarkan keterangan yang tim dapatkan, toko bernama MITRA KITA yang berlokasi di atas saluran air di depan pasar Daren tersebut memang tidak boleh membeli gas elpigi saja, tanpa membeli barang yang lain.

“Disitu biasanya harus membeli barang lain, baru dilayani gas elpiginya. Kalau tidak gitu biasanya dimintai identitas, KTP,” kata Ida (44), salah seorang warga.
Toko MITRA KITA yang berada di atas saluran air di depan pasar Daren Nalumsari, Jepara.
Yang menarik, gas elpigi bersubsidi yang didapatkan oleh warga dari toko tersebut, ada yang tutupnya sudah hilang. Alasan yang diutarakan warga, hal itu dilakukan agar gas elpigi bersubsidi tersebut tidak dijual kembali.

Ketika ditanya soal berat atau ukuran gas elpigi bersubsidi yang didapatkan dari toko tersebut, belum ada yang mencoba untuk mengukur. Beredar informasi pula jika toko tersebut ada hubungan secara langsung dengan salah satu agen elpigi bersubsidi yang ada di desa tersebut.

Mengenai kondisi ketersediaan gas elpigi bersubsidi di Desa Daren, Kepala Desa atau Petinggi Daren, Sholeh mengaku tidak tau menahu mengenai hal tersebut. “Saya kok malah tidak begitu mengikuti perkembangan gas elpigi. Semua langsung diurus di tingkat atas,” kata Sholeh kepada klikFakta.com.

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara, Edy Marwoto menyatakan bahwa dari laporan yang diterimanya, tidak ada kelangkaan di lapangan. Mengenai ketersediaan barang terbilang cukup. “Meski begitu, saya akan cek lagi,” ucap Edy saat dihubungi klikFakta.com.

klikFakta.com/Tim Investigasi-089

Flashdisk Ribuan Kitab PDF